Sabtu, 17 Januari 2026

Babad Madiun: Dari Jejak Manusia Purba hingga Lahirnya Kabupaten Madiun

 


Wilayah Madiun dan sekitarnya menyimpan jejak peradaban yang sangat panjang. Jauh sebelum dikenal sebagai sebuah kabupaten, kawasan ini telah dihuni manusia sejak masa prasejarah. Kesuburan tanah, banyaknya aliran sungai besar dan kecil seperti Sungai Madiun, Bengawan Solo, Kali Catur, dan Kali Nggandong menjadikan wilayah ini tempat yang ideal bagi kehidupan manusia sejak ribuan tahun silam.



Berbagai penemuan fosil dan artefak menguatkan hal tersebut. Pacitan bahkan disebut oleh para ahli sebagai “Ibukota Prasejarah”, dengan temuan penting di Gua Tabuhan dan wilayah Donorojo. Penemuan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois di Trinil, Ngawi (1891), serta temuan fosil di Sampung, Ponorogo, Alas Ketonggo, dan Kedungbrubus menunjukkan bahwa kawasan Madiun Raya merupakan bagian penting dari sejarah awal manusia di Nusantara.

Memasuki masa klasik, Madiun berada dalam pengaruh Kerajaan Mataram Kuno dan kemudian Kerajaan Medang pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Sungai Madiun berperan strategis sebagai jalur perdagangan dan militer, bahkan wilayah Winangga (Winongo) diduga menjadi pelabuhan biduk. Bukti kejayaan masa ini tercatat dalam berbagai prasasti seperti Prasasti Sendang Kamal dan Prasasti Mruwak, serta temuan arca, yoni, batu umpak, dan situs permukiman kuno yang tersebar di Sogaten, Kuncen, Uteran, Klagen Serut, hingga Warujayeng.

Sejarah Madiun memasuki babak penting pada runtuhnya Majapahit dan bangkitnya Kesultanan Demak. Di wilayah selatan Madiun berdiri Kadipaten Gegelang (Ngurawan) yang dipimpin Raden Adipati Gugur, keturunan Prabu Brawijaya. Melalui strategi dakwah dan politik, Demak memperluas pengaruhnya dengan menikahkan Pangeran Surya Pati Unus dengan Raden Ayu Rara Lembah, putri Gegelang. Dari sinilah pusat pemerintahan dipindahkan ke wilayah Sogaten dan diberi nama Purabaya.

Dalam konteks inilah muncul peran besar Kyai Ageng Reksogati, ulama utusan Demak yang dipercaya memimpin sekaligus menyebarkan Islam di Purabaya. Beliau mendirikan pesantren dan membangun tatanan sosial masyarakat. Hingga kini, jejak beliau masih dapat ditelusuri melalui petilasan batu umpak di Sogaten dan makam Kyai Ageng Reksogati di Desa Sidomulyo. Oleh masyarakat dan pemerintah, Kyai Ageng Reksogati dikenang sebagai cikal bakal berdirinya Kabupaten Madiun.

Pada masa Kesultanan Pajang, Purabaya resmi menjadi wilayah pemerintahan di bawah kekuasaan Sultan Adiwijaya. Tahun 1568, Pangeran Timur dilantik sebagai Bupati Purabaya dengan pusat pemerintahan di Sogaten, Sidomulyo, dan sekitarnya, sebelum akhirnya dipindahkan ke Wonosari (Kuncen). Sejak saat itu, Madiun tumbuh sebagai wilayah administratif yang semakin mapan.

Sejarah Madiun juga diwarnai perlawanan heroik terhadap dominasi Mataram dan VOC. Sosok Raden Ayu Retno Dumilah, putri Panembahan Rama, tampil sebagai senopati perempuan yang memimpin pasukan Mancanegara Timur melawan Mataram. Namun pada tahun 1590, Purabaya akhirnya takluk, dan namanya diubah menjadi Mbediyun atau Madiun, menandai babak baru dalam sejarah daerah ini.

Pada abad ke-17 hingga ke-18, Madiun kembali menjadi wilayah strategis dalam berbagai konflik besar, mulai dari Perang Trunojoyo, Perang Untung Suropati, hingga Perang Suksesi Jawa III. Rakyat Madiun tercatat sering bersimpati dan membantu perlawanan terhadap VOC, meskipun secara politik berada di bawah kekuasaan kerajaan besar.

Puncaknya adalah Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Dalam pembagian tersebut, Kabupaten Madiun masuk wilayah Kasultanan Yogyakarta, dengan otonomi terbatas namun tetap memegang peranan penting sebagai wilayah Mancanegara Timur.

Babad Madiun bukan sekadar catatan peperangan dan pergantian kekuasaan. Ia adalah kisah tentang peradaban, dakwah, perlawanan, dan kearifan lokal yang membentuk identitas Madiun hingga hari ini. Menelusuri jejak Kyai Ageng Reksogati, situs-situs kuno, dan sejarah panjangnya, berarti menyusuri akar jati diri Madiun sebagai tanah yang religius, berbudaya, dan berdaulat.

Disarikan dari berbagai sumber sejarah lokal dan catatan babad Madiun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Babad Madiun: Dari Jejak Manusia Purba hingga Lahirnya Kabupaten Madiun

  Wilayah Madiun dan sekitarnya menyimpan jejak peradaban yang sangat panjang. Jauh sebelum dikenal sebagai sebuah kabupaten, kawasan ini te...